05 Januari 2012

Buah Mirip Durian yang memiliki Keunggulan Komparatif dan Prospektif


Mendengar kata durian, mungkin sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Buah yang mempunyai rasa yang cukup lezat dan memiliki wangi yang cukup kuat. Siapa saja pasti sangat menyukainya.
Namun tahukah kita bahwa terdapat jenis-jenis buah yang menyerupai buah durian itu? Jenis buah yang mirip durian ini cukup banyak terdapat di daerah Kalimantan.
Jika diamati buah yang mirip durian ini memiliki keunggulan terutama keunggulan komparatif, dimana buah ini hanya tumbuh dan berkembang di Kalimantan. Disamping itu cukup prospektif dibudidayakan karena memiliki aroma yang harum dan enak rasanya. Jenis Buah yang mirip durian tersebut antara lain:

1. Pekawai/Lai (durio kutejensis)


Pekawai atau lai (durio kutenensis) bentuk buahnya sangat mirip dengan durian yang membedakannya pada daging buahnya, bentuk luar buahnya lebih kecil daripada durian, berbeda sedikit warna kulitnya. Daging buahnya beraneka ragam ada yang berwana kuning, jingga dan kemerah-nerahan.
Ada beberapa jenis varietas buah ini, beberapa varietas yang sudah populer diantaranya: pekawai/lai batuah, lai kutai dan lai mahakam (dagingnya lebih tebal dan kemerahan). Aroma buah pekawai/lai wangi menyengat dan rasanya manis, satu pohon bisa menghasilkan 200 buah per tahun.

2. Krantungan


krantungan mirip buah durian muda, hanya saja penampilannya sungguh tidak meyakinkan. bentuknya kecil, kulit hijau, duri-duri lemas, runcing tapi tak tajam. Warna dagingnya kuning bertekstur kesat dan pulen, tebal dan rasanya tajam dengan sedikit sentuhan pahit, (Aneka Sumber).

06 Oktober 2011

Cara Pembuatan Kompos

Bahan Pembuatan Pupuk Organik/Kompos

Memanfatkan limbah pertanian, seperti jerami, daun-daunan, rumput, kulit kopi, serbuk gergaji, bahan tersebut mudah didapat dan tersedia dilahan pertanian.

Kelebihan Pupuk Organik/Kompos

Kelebihan pupuk organik dari pupuk anorganik cukup banyak diantaranya : Bahan mudah diperoleh (murah) ,pembuatan sangat mudah, pupuk organik adalah pupuk lengkap, pupuk organik berfungsi juga memperbaiki kesuburan tanah, dapat tersimpan dalam tanah dengan waktu yang lama, sedangkan pupuk anorganik bahkan cendrung sebaliknya.

Teknik Pembuatan Pupuk Organik/Kompos

1. Bahan

Hijauan/daun-daunan, rumput atau jerami 1 ton, pupuk kandang 200-300 kg, sekam padi 100-200 kg, dedak/bekatul 50-100 kg, stater/bahan pengurai 0,2-0,5 liter, tetes tebu/gula 1-2 kg dan air 300 – 500 liter (secukupnya)

2. Persiapan tempat

Sebaiknya dibuatkan lobang dengan ukuran 2 x 2,5 dengan kedalaman 40-60 cm, usahakan tempatnya tidak terbuka atau kena sinar matahari langsung, seperti di bawah pohon sebaiknya dibuatkan naungan/gubuk untuk mengindari sinar matahari langsung dan hujan.

3. Cara Pebuatan

Supaya proses pengomposan lebih cepat hijaun/daun-daunan, jerami dipotong-potong kurang lebih 5-10 cm. tetes tebu/gula dan stater pengurai dilarutkan dengan air dalam ember/bak plastik diaduk sampai merata, potongan-potongan hijauan/jerami dicampur dengan pupuk kandang, dedak, sekam, serbuk gergaji dan limbah pertanian lainnya secara merata, siramkan larutan secara perlahan-lahan kedalam adonan secara merata sampai kandungan air adonan mencapai 50%, bila adonan dikepal dengan tangan air tidak keluar dari adonan, bila kepalan dibuka maka adonan akan megar, sewaktu pengadukan dan penyiraman langsung dimasukan kedalam lobang yang sudah disiapkan.

Usahakan tumpukan bahan yang sudah diaduk tingginya tidak melebihi 60 cm dari permukaan tanah, tutup dengan terpal/plastik agar tidak terjadi penguapan, bisa juga ditutup dengan lumpur seluruh permukaan, tancapkan bilah bambu sekitar 10-15 cm agar udara luar masuk, sehingga proses pengomposan/fermentasi berjalan lebih cepat

4. Pemeriksaan/Pengamatan

Setelah 2-3 hari tumpukan diperiksa, dengan cara membuat lubang, kemudian dimasukan tangan, apabila didalam tumpukan dirasa suhunya cukup tinggi maka dapat dipastikan proses pengomposan sedang terjadi, kalau didalam tumpukan sehunya rendah, berarti tidak terjadi proses pengomposan, untuk itu perlu diulangi penyiraman dengan larutan tetes tebu/gula dan stater/pengurai, 2 atau 3 hari sekali tumpukan disiram, sesuai dengan keadaan/kelembaban, untuk tumpukan yang memakai tutup terpal/plastik, setelah 6-7 hari perlu dilakukan pengadukan dan disiram seperlunya agar terjadi sirkulasi udara, dengan demikian diharapkan mikroba akan berkembang dan proses pengomposan lebih cepat, setelah 20-30 hari dilakukan pemeriksaan kembali dengan cara memasukan tangan kedalam tumpukan, apabilia temperatur didalam tumpukan suhunya menjadi turun, maka pengomposan sudah jadi dan siap panen.

Apabila tercium bau yang kurang enak dari dalam tumpukan menandakan proses pengomposan tidak sempurna dan perlu diulangi kembali. Cara memeriksa lain yaitu dengan menusuk-nusuk tumpukan dengan kayu/bambu, apabila tusukan lancar/tidak menyakut, maka pengomposan berhasil dan siap dipakai. (Sumber : situsdownload.com)

26 Agustus 2011

Selamat Hari raya Idul Fitri 1432H


Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan,
Terima kasih atas kunjungannya... :)